Ready Player One (2018)
INSOMANIAC
Halo sahabat insom! kali ini kita akan review tentang movie berjudul Ready Player One. Perkembangan teknologi dunia game di era modern terus berlangsung. Semakin hari produksi program dan gaming stuff semakin beragam, termasuk VR (Virtual Reality), yang membuat pengguna dapat berinteraksi dengan suatu lingkungan yang disimulasikan komputer (computer-simulated environment), suatu lingkungan sebenarnya yang ditiru atau benar-benar suatu lingkungan yang hanya ada dalam imaginasi. Tapi bagaimana jika dunia gaming didalam VR bisa sangat nyata melebihi dunia nyata itu sendiri?
Ceekidot buat reviewnya :p
Genre: Action, Adventure, Sci-Fi
Bercerita tentang suatu masa di tahun 2045, sebuah perusahaan pengembang dunia game vistual reality bernama OASIS, yang mana merupakan raksasa perusahaan gaming terbesar di dunia dan sukses memberikan pengaruh kepada hampir seluruh masyarakat dunia kecanduan bermain game VR. Namun ketika pencipta OASIS, James Halliday (Mark Rylance) meninggal, ia merilis video yang berisikan Avatar-nya (Anorak) yang menantang semua pengguna OASIS untuk menemukan telur tersembunyi dan hanya ada 3 kunci yang bisa membukanya, kunci-kunci tersebut hanya ada di dalam dunia game VR OASIS dan clue-clue dimana keberadaan kunci dan telur paskah tersebut sangatlah minim, namun siapa yang berhasil menemukan ketiga kunci dan berhasil membuka telur paskah tsb akan mendapatkan seluruh saham dari perusahaan OASIS peninggalan James Halliday.
Mengingat besarnya hadiah yang ditawarkan oleh James Halliday, semua orang di dunia kemudian berlomba-lomba untuk mencari kunci-kunci dan telur paskah tersebut, namun beberapa tahun berlalu tetap tidak ada yang berhasil mendapatkan 1 kuncipun. Berambisi besar untuk mendapatkan perusahaan OASIS, Nolan Sorrento (Ben Mendelsohn) membuat sebuah perusahaan IOI (Innovative Online Industries) yang menggunakan seluruh karyawannya yang disebut "Sixers" untuk menemukan telur Paskah tersebut. Namun Wade Watts (Tye Sheridan) seorang remaja biasa yang juga merupakan penggemar berat James Halliday menemukan petunjuk pertama dan berusaha untuk menemukan si telur tersembunyi ini guna mendapatkan hadiah dari James Halliday dan menyelamatkan keluarganya dari kemiskinan. Bersama kelima orang temannya, dapatkah Wade Watts menemukan telur paskah tersebut dan berhadapan dengan perusahaan raksasa IOI yang memiliki banyak cara licik untuk memiliki OASIS?
Film bertemakan game yang paling ditunggu di tahun ini, Ready Player One garapan sutradara ternama Steven Spielberg ini sudah kita nantikan dari jauh hari. Bagaimana tidak, konsep yang dibawa pun sudah datang dari ide terbaru di industri perfilman, yaitu dari Virtual Reality (VR). Jalan cerita yang kreatif, beda dari yang film Spielberg maupun film popcorn lainnya di tahun ini. Nama Steven Spielberg pun sebenarnya sudah seperti trade mark, atau bisa saya bilang seperti jaminan mutu.
Jujur sebenarnya saya menonton film ini karena tertarik dengan posternya, it designed so cool, memancing rasa penasaran saya yang sudah lama tidak menonton film action, dan it was very suprisingly, jalan cerita yang keren dan gak bikin ngantuk sama sekali. Dari awal film ini dimulai kita sudah dikenalkan dengan baik bagaimana latar belakang si tokoh utama, karakter lingkungannya dan bagaimana dengan kesehariannya. Jangan ragukan lagi akting Tye Sheridan. Aktor muda tampan yang mulai memuncaki karirnya di dunia perfilman hollywood di film garapan Terrence Malick, the Tree of Life (2011) ini seakan sudah terasah sejak kecil, ditambah lagi Tye Sheridan sekarang yang sedang naik daun berkat bergabungnya Tye ke X-Men sebagai Scott Summers (Cyclops) yang bisa kita temukan di X-Men : Apocalypse, membuat karirnya meroket tajam dalam beberapa tahun terakhir ini.
Pengambilan film didominasi dari dalam dunia game, membuat kita merasa seperti menonton film animasi dengan visual yang lebih 'gameable', belum lagi setiap gerakan thrill yang diberi efek 3D sehingga membuat kita sendiri sedang bermain bersama Wade Watts dkk di dalam situ. Sensasi seperti saya sedang di dunia virtual sangat terasa, bahkan terkadang saya lupa kalau mereka sedang di dalam dunia virtual, dan yang ditampilkan disana adalah Avatar. Namun saat mereka kembali ke dunia nyata, membuat saya tertegun kembali karena merasa terlalu asik dengan dunia virtual-nya Wade Watts.
Villainnya sendiri sulit ditaklukkan, yang membuat saya merasa bahwa film ini memberikan kesan bahwa di bagian konflik dan klimaks seakan mengajak kita bermain roller-coaster. Semua aspek di film ini mendukung semua aspek yang berada di game. Sound effect dan visual effect yang keren dan ketika film ini selesai, saya terdiam. Speechless.
Diwarnai oleh sedikit drama romance, tetapi minim di comedy membuat film ini sedikit kurang bumbu. Saya awalnya berekspektasi untuk mendapatkan comedy yang sedikit lebih banyak tetapi ya udahlah, Ready Player One juga udah bagus sebenarnya, kekurangan comedy juga bukan kesalahan yang fatal. Overall cukup asik dan worth to watch. Bravo, Spielberg!
Mengingat besarnya hadiah yang ditawarkan oleh James Halliday, semua orang di dunia kemudian berlomba-lomba untuk mencari kunci-kunci dan telur paskah tersebut, namun beberapa tahun berlalu tetap tidak ada yang berhasil mendapatkan 1 kuncipun. Berambisi besar untuk mendapatkan perusahaan OASIS, Nolan Sorrento (Ben Mendelsohn) membuat sebuah perusahaan IOI (Innovative Online Industries) yang menggunakan seluruh karyawannya yang disebut "Sixers" untuk menemukan telur Paskah tersebut. Namun Wade Watts (Tye Sheridan) seorang remaja biasa yang juga merupakan penggemar berat James Halliday menemukan petunjuk pertama dan berusaha untuk menemukan si telur tersembunyi ini guna mendapatkan hadiah dari James Halliday dan menyelamatkan keluarganya dari kemiskinan. Bersama kelima orang temannya, dapatkah Wade Watts menemukan telur paskah tersebut dan berhadapan dengan perusahaan raksasa IOI yang memiliki banyak cara licik untuk memiliki OASIS?
Film bertemakan game yang paling ditunggu di tahun ini, Ready Player One garapan sutradara ternama Steven Spielberg ini sudah kita nantikan dari jauh hari. Bagaimana tidak, konsep yang dibawa pun sudah datang dari ide terbaru di industri perfilman, yaitu dari Virtual Reality (VR). Jalan cerita yang kreatif, beda dari yang film Spielberg maupun film popcorn lainnya di tahun ini. Nama Steven Spielberg pun sebenarnya sudah seperti trade mark, atau bisa saya bilang seperti jaminan mutu.
Jujur sebenarnya saya menonton film ini karena tertarik dengan posternya, it designed so cool, memancing rasa penasaran saya yang sudah lama tidak menonton film action, dan it was very suprisingly, jalan cerita yang keren dan gak bikin ngantuk sama sekali. Dari awal film ini dimulai kita sudah dikenalkan dengan baik bagaimana latar belakang si tokoh utama, karakter lingkungannya dan bagaimana dengan kesehariannya. Jangan ragukan lagi akting Tye Sheridan. Aktor muda tampan yang mulai memuncaki karirnya di dunia perfilman hollywood di film garapan Terrence Malick, the Tree of Life (2011) ini seakan sudah terasah sejak kecil, ditambah lagi Tye Sheridan sekarang yang sedang naik daun berkat bergabungnya Tye ke X-Men sebagai Scott Summers (Cyclops) yang bisa kita temukan di X-Men : Apocalypse, membuat karirnya meroket tajam dalam beberapa tahun terakhir ini.
Pengambilan film didominasi dari dalam dunia game, membuat kita merasa seperti menonton film animasi dengan visual yang lebih 'gameable', belum lagi setiap gerakan thrill yang diberi efek 3D sehingga membuat kita sendiri sedang bermain bersama Wade Watts dkk di dalam situ. Sensasi seperti saya sedang di dunia virtual sangat terasa, bahkan terkadang saya lupa kalau mereka sedang di dalam dunia virtual, dan yang ditampilkan disana adalah Avatar. Namun saat mereka kembali ke dunia nyata, membuat saya tertegun kembali karena merasa terlalu asik dengan dunia virtual-nya Wade Watts.
Villainnya sendiri sulit ditaklukkan, yang membuat saya merasa bahwa film ini memberikan kesan bahwa di bagian konflik dan klimaks seakan mengajak kita bermain roller-coaster. Semua aspek di film ini mendukung semua aspek yang berada di game. Sound effect dan visual effect yang keren dan ketika film ini selesai, saya terdiam. Speechless.
Diwarnai oleh sedikit drama romance, tetapi minim di comedy membuat film ini sedikit kurang bumbu. Saya awalnya berekspektasi untuk mendapatkan comedy yang sedikit lebih banyak tetapi ya udahlah, Ready Player One juga udah bagus sebenarnya, kekurangan comedy juga bukan kesalahan yang fatal. Overall cukup asik dan worth to watch. Bravo, Spielberg!
Gimana tentang reviewnya? bisalah buat ditonton untuk movie satu ini :D.
See next time sahabat INSOM! :D
-Toxic Team

Comments
Post a Comment