Alpha (2018)
INSOMANIAC
Halo sahabat insom! kali ini kita akan review tentang movie berjudul Alpha, gimana keseruannya?
Ceekidot buat reviewnya :p
Genre: Adventure, Drama, Family
Pernah membayangkan bahwa sejenis hewan buas bisa menjadi sahabatmu? Senang, merasa keren, atau malah takut? Seperti yang telah kuta ketahui bersama bahwa anjing adalah hewan yang telah bersahabat dengan manusia sejak ribuan tahun lalu, ia telah menemani dan membantu hidup manusia purba dengan menjaga rumah2 mereka dari serangan hewan buas di malam hari dan ikut menemani berburu mencari makanan untuk manusia sehingga mereka akan merasa aman selama berada di hutan.
Bagaimana dengan serigala? Jangan pernah berpikir bahwa serigala bisa menjadi sahabat manusia hanya karena bentuk fisik dan lolongan serigala yang mirip anjing, serigala bisa dengan mudah menjadi sahabat manusia. Buas, liar, dan haus darah, kriteria yang pas untuk menjadi hewan yang ditakuti manusia.
Tapi hal ini tidak berlaku untuk film Alpha (2018), menceritakan tentang suatu waktu, tepatnya 20.000 tahun yang lalu di zaman es, terdapat sebuah kelompok suku yang dipimpin oleh Tau (Johannes Haukur Johannesson), seorang laki-laki yang berwibawa dan memimpin kelompok sukunya dengan bijaksana. Ketika musim dingin akan datang, kelompok suku yang dipimpin oleh Tau telah mempersiapkan diri untuk berburu mencari makanan untuk kelompok sukunya, mengingat sulitnya mencari makanan di musim dingin yang bersalju. Sebagai seorang pemimpin yang baik, Tau mengajak anak laki-lakinya, Keda (Kodi Smit-McPhee) yang telah beranjak remaja untuk ikut berburu bersama rombongannya guna mempersiapkan diri Keda untuk menggantikan posisi ayahnya sebagai pemimpin kelompok suku jika ayahnya sudah tua nanti. Istri Tau tidak mengizinkan Keda untuk ikut berburu bersama rombongan ayahnya, tapi Tau meyakinkan istrinya bahwa tujuannya mengajak Keda adalah untuk membentuk pribadi Keda untuk menjadi pria yang berani. Maka jadilah, Keda pun akhirnya ikut serta bersama rombongan ayahnya untuk berburu ke tempat yang amat jauh.
Unfortunately, there was an accident. Ketika dalam perjalanan, Keda jatuh dari tebing dan pingsan, lalu Keda pun diduga oleh rombongan ayahnya telah mati dan meninggalkan Keda yang tersangkut di tebing, karena tidak mungkin untuk mengambil tubuh Keda naik ke atas lagi yang tersangkut di tebing. Setelah mereka pergi, barulah Keda tersadar dari pingsannya dan mendapati dia sudah sendirian dengan kaki yang cedera. Ketika Keda diserang oleh sekelompok serigala, ia pun melukai seekor serigala yang menyerangnya dan memanjat ke atas pohon, ketika turun, Keda memutuskan untuk merawat serigala tersebut hingga sembuh di sebuah gua hingga terwujudlah auatu hubungan persahabatan antara Keda dengan serigala tsb yang ia beri nama Alpha. Ketika kaki Keda telah sembuh dan sebentar lagi musim dingin akan datang, Keda pun memutuskan untuk pulang, tetapi Alpha terus-terusan mengikutinya. Dapatkah mereka menyelamatkan diri dari kerasnya perjalanan pulang dan dari badai salju yang mengamuk?
Alpha (2018) film yang berkonsep beda dari yang lain di tahun ini, mengambil latar waktu dari 20.000 tahun yang lalu cocok bagi kalian yang sudah bosan dengan film2 lain yang memiliki latar waktu di zaman sekaramg melulu. Awalnya saya mau siap-siap nyinyirin film ini jika memakai bahasa inggris, sebab di 20.000 tahun yang lalu bahasa inggris belum digunakan saat itu. Tapi tidak, Alpha (2018) benar-benar menggunakan bahasa yang berbeda, dan itu sudah jelas memiliki nilai plus dari saya. Pengenalan karakter yang hampir sempurna sangat mendukung pengembangan karater main actor di pertengahan film. 3/4 bagian dari keseluruhan film kita dihadapkan pada petualangan Keda dan Alpha.
Hanya saja terdapat adanya kejanggalan di film ini malah terdapat pada dasar konflik film ini sendiri. Rombongan berburu menempuh perjalanan hingga berminggu-minggu untuk mencari hewan buruan. Wait, what? Yap, perjalanan yang amat sangat jauh. Kita bisa membayangkan betapa busuknya daging buruan itu ketika mereka kembali. Menurut saya pengantar jalan cerita itu terlalu dibuat-buat. Ketika kita sampai di bagian komplikasi di film ini terdapat beberapa situasi yang tidak masuo akal, dan itu termasuk merusak inti cerita karena untuk film bergenre survival, kita tidak butuh jalan cerita dengan embel-embel keajaiban dan mukjizat bertahan hidup.
Cinematography apik, rapi dan memanjakan mata. Saya berharap film Alpha ini sanggup tembus Oscar tahun depan untuk kategori sinematografi terbaik.
Tapi hal ini tidak berlaku untuk film Alpha (2018), menceritakan tentang suatu waktu, tepatnya 20.000 tahun yang lalu di zaman es, terdapat sebuah kelompok suku yang dipimpin oleh Tau (Johannes Haukur Johannesson), seorang laki-laki yang berwibawa dan memimpin kelompok sukunya dengan bijaksana. Ketika musim dingin akan datang, kelompok suku yang dipimpin oleh Tau telah mempersiapkan diri untuk berburu mencari makanan untuk kelompok sukunya, mengingat sulitnya mencari makanan di musim dingin yang bersalju. Sebagai seorang pemimpin yang baik, Tau mengajak anak laki-lakinya, Keda (Kodi Smit-McPhee) yang telah beranjak remaja untuk ikut berburu bersama rombongannya guna mempersiapkan diri Keda untuk menggantikan posisi ayahnya sebagai pemimpin kelompok suku jika ayahnya sudah tua nanti. Istri Tau tidak mengizinkan Keda untuk ikut berburu bersama rombongan ayahnya, tapi Tau meyakinkan istrinya bahwa tujuannya mengajak Keda adalah untuk membentuk pribadi Keda untuk menjadi pria yang berani. Maka jadilah, Keda pun akhirnya ikut serta bersama rombongan ayahnya untuk berburu ke tempat yang amat jauh.
Unfortunately, there was an accident. Ketika dalam perjalanan, Keda jatuh dari tebing dan pingsan, lalu Keda pun diduga oleh rombongan ayahnya telah mati dan meninggalkan Keda yang tersangkut di tebing, karena tidak mungkin untuk mengambil tubuh Keda naik ke atas lagi yang tersangkut di tebing. Setelah mereka pergi, barulah Keda tersadar dari pingsannya dan mendapati dia sudah sendirian dengan kaki yang cedera. Ketika Keda diserang oleh sekelompok serigala, ia pun melukai seekor serigala yang menyerangnya dan memanjat ke atas pohon, ketika turun, Keda memutuskan untuk merawat serigala tersebut hingga sembuh di sebuah gua hingga terwujudlah auatu hubungan persahabatan antara Keda dengan serigala tsb yang ia beri nama Alpha. Ketika kaki Keda telah sembuh dan sebentar lagi musim dingin akan datang, Keda pun memutuskan untuk pulang, tetapi Alpha terus-terusan mengikutinya. Dapatkah mereka menyelamatkan diri dari kerasnya perjalanan pulang dan dari badai salju yang mengamuk?
Alpha (2018) film yang berkonsep beda dari yang lain di tahun ini, mengambil latar waktu dari 20.000 tahun yang lalu cocok bagi kalian yang sudah bosan dengan film2 lain yang memiliki latar waktu di zaman sekaramg melulu. Awalnya saya mau siap-siap nyinyirin film ini jika memakai bahasa inggris, sebab di 20.000 tahun yang lalu bahasa inggris belum digunakan saat itu. Tapi tidak, Alpha (2018) benar-benar menggunakan bahasa yang berbeda, dan itu sudah jelas memiliki nilai plus dari saya. Pengenalan karakter yang hampir sempurna sangat mendukung pengembangan karater main actor di pertengahan film. 3/4 bagian dari keseluruhan film kita dihadapkan pada petualangan Keda dan Alpha.
Hanya saja terdapat adanya kejanggalan di film ini malah terdapat pada dasar konflik film ini sendiri. Rombongan berburu menempuh perjalanan hingga berminggu-minggu untuk mencari hewan buruan. Wait, what? Yap, perjalanan yang amat sangat jauh. Kita bisa membayangkan betapa busuknya daging buruan itu ketika mereka kembali. Menurut saya pengantar jalan cerita itu terlalu dibuat-buat. Ketika kita sampai di bagian komplikasi di film ini terdapat beberapa situasi yang tidak masuo akal, dan itu termasuk merusak inti cerita karena untuk film bergenre survival, kita tidak butuh jalan cerita dengan embel-embel keajaiban dan mukjizat bertahan hidup.
Cinematography apik, rapi dan memanjakan mata. Saya berharap film Alpha ini sanggup tembus Oscar tahun depan untuk kategori sinematografi terbaik.
Gimana tentang reviewnya? yuk langsung tonton movienya :D.
See next time sahabat INSOM! :D
-Toxic Team

Comments
Post a Comment